Cerpen 10

Berlari ke Sekolah
oleh: Puasha

    Raka tidak lagi berlari ke sekolah kerana takut dimarahi oleh guru-guru yang lain. Ia berlari kerana hidupnya sendiri terasa selalu tertinggal beberapa langkah. Pagi itu, jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh, sementara guru dan murid akan berkumpul tiga puluh minit lagi.

Di usia tiga puluh dua, Raka bekerja sebagai staf pengurusan di sebuah sekolah menengah. Ia terbiasa menyiapkan jadual, surat edaran, dan laporan kehadiran, tetapi sering gagal mengurus hidupnya sendiri. Sarapan hanya menjadi dua teguk kopi pahit sebelum ia menyambar beg kerja dan keluar rumah.

Di depan cermin dekat pintu, ia sempat melihat wajahnya yang lelah. Kemejanya belum benar-benar rapi, rambutnya masih basah, dan matanya menyimpan sisa tidur yang pendek. Ibunya, yang kini lebih banyak diam sejak ayahnya meninggal, hanya berkata pelan, “Jangan terus hidup seperti dikejar sesuatu, Ka.”

Raka tidak menjawab. Ia menuruni jalan kecil menuju sekolah dengan langkah cepat, melewati pondok penjaja makanan yang baru dibuka, genangan air bekas hujan, dan wajah-wajah pagi yang tampak lebih tenang darinya. Setiap nafas yang keluar terasa seperti pengingat bahwa tubuhnya juga menagih perhatian.

Ketika gerbang sekolah mulai ramai, Raka tiba dengan dada berdebar. Ia tidak benar-benar terlambat, tetapi ia merasa selalu datang pada minit terakhir dalam banyak hal: pekerjaan, keluarga, bahkan dirinya sendiri.

Kebiasaan itu tidak luput dari perhatian Pak Rajoli, guru olahraga senior yang sudah hampir pencen. Beberapa pagi berturut-turut, Pak Rajoli melihat Raka tiba dengan nafas memburu, lalu tetap memaksakan senyum seolah semuanya baik-baik saja.

Suatu pagi, setelah upacara selesai, Pak Rajoli menghampiri Raka di tepi lapangan. Suaranya tenang, tetapi matanya tajam seperti orang yang sudah lama membaca bahasa tubuh murid dan rakan kerjanya.

“Raka,” kata Pak Rajoli, “kamu ini punya tenaga untuk berlari, tapi belum punya alasan yang benar untuk melangkah.”

Raka tertawa kecil, lebih kerana tidak tahu harus menjawab apa. “Saya hanya berusaha tidak terlambat, Cikgu.”

“Kalau begitu, cuba ikut lari rentas desa antara sekolah minggu depan,” ujar Pak Rajoli. “Bukan untuk menang. Untuk belajar tiba dengan utuh, bukan hanya tiba tepat waktu.”

Raka memandang lapangan yang mulai sunyi. “Saya sudah lama tidak ikut lumba apa pun, Cikgu. Bahkan untuk tidur lebih awal saja saya sering kalah.”

Pak Rajoli tersenyum tipis. “Justeru kerana itu kamu perlu mulai dari sesuatu yang sederhana. Bangun, berlari, bernapas, dan menyelesaikan apa yang sudah kamu mulakan.”

Raka tidak langsung menerima, tetapi kalimat itu tinggal lama di kepalanya.

Keesokan paginya, Raka datang ke lapangan sebelum matahari benar-benar tinggi. Pak Rajoli sudah menunggu dengan peluit di leher dan buku catatan kecil di tangan. Latihan pertama hanya tiga putaran, tetapi bagi Raka, tiga putaran itu terasa seperti membaca ulang seluruh kelelahan yang selama ini ia abaikan.

Setelah setengah putaran, nafasnya mulai pendek. Ia ingin berhenti, tetapi Pak Rajoli berjalan di sisi lintasan dan berkata, “Jangan lawan tubuhmu. Dengarkan dulu, lalu atur langkahmu.”

Untuk pertama kalinya, Raka menyadari bahwa selama ini ia hanya memaksa tubuhnya mengejar hari.

Latihan berikutnya membawa mereka ke jalan berbatu di belakang sekolah. Di sana, Raka belajar bahwa kecepatan bukan satu-satunya hal yang penting. Pada jalan yang tidak rata, ia harus memilih pijakan, menjaga keseimbangan, dan menerima bahawa lambat tidak selalu bererti gagal.

“Pelari yang baik bukan yang tidak pernah lelah,” kata Pak Rajoli suatu petang, “tetapi yang tahu bila memperlambat langkah tanpa kehilangan arah.” Raka menyimpan kalimat itu seperti bekal yang lebih mengenyangkan daripada sarapan terburu-buru.

Hari-hari latihan perlahan mengubah rutinnya. Ia mulai tidur lebih awal, menyiapkan pakaian kerja sebelum malam, dan sarapan bersama ibunya meski hanya sepuluh minit. Tidak semua masalah selesai, tetapi pagi tidak lagi terasa seperti musuh yang harus dikalahkan.

Hari lumba tiba pada Minggu pagi yang basah oleh embun. Raka berdiri di antara peserta dari beberapa sekolah, bukan sebagai murid yang ingin membuktikan diri, melainkan sebagai orang dewasa yang mencoba berdamai dengan ritma hidupnya sendiri.

Di garis mula, ia melihat wajah-wajah yang tegang, sepatu yang menghentak tanah, dan jalan kampung yang membentang di depan.

Raka menoleh kepada Pak Rajoli. “Kalau saya tidak kuat?” tanyanya pelan.

“Maka kamu perlahankan langkah,” jawab Pak Rajoli. “Tapi jangan berhenti hanya karena takut terlihat lemah.”

Peluit berbunyi, dan Raka mulai berlari bersama puluhan langkah lain yang memukul tanah pagi.

Laluan lumba melewati jalan kecil, sawah, dan jambatan buluh. Di beberapa bahagian, tanah masih licin oleh hujan semalam. Raka tidak lagi berlari seperti orang yang dikejar waktu. Ia mengatur napas, menjaga jarak, dan membiarkan tubuhnya menemukan irama.

Pada jarak terakhir, kakinya terasa berat. Ingatan tentang ayahnya, pekerjaan yang menumpuk, dan rasa bersalah kepada ibunya tiba-tiba datang bersamaan. Namun kali ini, Raka tidak lari dari semuanya. Ia membawa semua itu naik, langkah demi langkah.

Ia tidak menjadi juara pertama. Bahkan namanya tidak disebut dalam tiga tangga besar. Tetapi ketika melewati garis penamat, Raka merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: tubuh yang lelah, pikiran yang jernih, dan hati yang tidak lagi tergesa-gesa.

Pak Rajoli menepuk bahunya. “Kamu selesai, Ka. Itu lebih penting daripada menang hari ini.”

Raka mengangguk, lalu tersenyum kecil. Sejak hari itu, ia masih sesekali berlari ke sekolah, tetapi bukan lagi kerana panik. Ia berlari kerana akhirnya memahami bahwa hidup tidak selalu menuntut kita menjadi yang tercepat; kadang-kadang, hidup hanya meminta kita terus melangkah dengan sedar.

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Peraduan Menulis Karangan, Cerpen dan Rencana 2011 anjuran Dewan Bahasa dan Pustaka, Brunei.

Majalah Mekar dan Perkembangan Sastera Kanak-Kanak di Negara Brunei Darussalam

11 Fungsi Cerita Kanak-Kanak Yang Perlu Kita Ketahui.

'Aku Tidak Mahu Rasuah' bukan isu baharu

10 Sebab Mengapa Awda Membaca Karya Sastera.